Glitter Text Generator at TextSpace.net

Kamis, 26 September 2013

Tulisan 1 Psikologi Manajemen

Nama   : Rindy Chairunisa

Kelas   : 3 PA 08
Npm    : 18511041

 
  

**Definisi Komunikasi**


Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi karena komunikasi merupakan bagian terpenting dari sistem kehidupan sosial manusia.
Menurut para ahli,  Pawito dan C Sardjono (1994 : 12) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan atau dioperkan (lewat suatu saluran) dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku overt lainnya. Sekurang-kurangnya didapati empat unsur utama dalam model komunikasi yaitu sumber (the source), pesan (the message), saluran (the channel) dan penerima (the receiver).
Pakar komunikasi, Joseph A Devito mengemukakan komunikasi sebagai transaksi. Transaksi yang dimaksudkannya bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana komponen-komponennya saling terkait dan bahwa para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan. Dalam setiap proses transaksi, setiap elemen berkaitan secara integral dengan elemen lain (Suprapto, 2006 : 5).

**Dimensi Komunikasi**

 
 ·         Komunikasi sebagai multidimensional
Jika komunikasi dilihat dari perspektif multidimensional ada 2 tingkatan yang dapat diidentifikasikan yakni dimensi isi (contet dimension) dan dimesi hubungan (relationship dimension).
            Dimensi isi : lebih menunjukkan pada kata, bahasa dan informasi yang dibawa pesan. Jadi seperti orang tegal berbicara dengan orang sunda pasti bahasa yang mereka gunakan pun juga berbeda disinilah dimensi isi menunjukkan hal tersebut dalam komunikasi.
            Dimensi hubungan : menunjukkan bagaimana proses komunikasi berinteraksi satu sama lain. Masih dengan contoh diatas dimensi hubungan menunjukkan bagaimana mereka berinteraksi, media apa yang mereka gunakan, apakah ada bahasa tubuh atau simbol-simbol yang digunakan. Itu dilihat dari dimensi hubungan. Asumsi dasar hubungan multidimensional adalah bahwa sumber tidak hanya mempengaruhi pesan, tetapi juga bisa mempengaruhi komponen yang lainnya.
·         Komunikasi sebagai transaksional
Komunikasi tidak pernah terjadi tanpa melibatkan orang lain, dalam proses yang demikian akan timbul action dan interaction diantara para pelaku komunikasi.
·         Komunikasi sebagai aktivitas social
Hubungan antar sesama manusia, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau untuk kepentingan aktualitas diri dalam membicarakan masalah-masalah politik, sosial, budaya, seni dan teknologi.


**Definisi Leadership**
 
 
    
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia. Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
              Menurut para ahli, Koentjaraningrat kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atao leader) untuk memengaruhi orang lain (yaitu orang yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut.
Adapun tugas-tugas pokok seorang pemimpin, yaitu:
a.       Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi pengikut-pengikutnya.
b.      Mengawasi, mengendalikan, serta menyalurkan perilaku warga masyarat yang dipimpinnya.
c.       Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpin.

**Teori kepemimpinan**

1.      Teori X dan Y (Douglas McGregor)
       
 

Teori Organisasi Klasik adalah tesis Douglas McGregor yang menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang manusia, yang pertama dasarnya negatif yaitu Teori X dan yang dasarnya positif yaitu Teori Y. Teori X dan Teori Y yang ia ajukan dalam memandang manusia (pegawai). Setelah meninjau bagaimana manajer berhubungan dengan pegawai, McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer seputar sifat manusia didasarkan pada kelompok asumsi tertentu dan ia cenderung memperlakukan pegawai berdasarkan asumsi-asumsi tersebut. Asumsi ini dapat bersifat negatif (Teori X) atau positif (Teori Y).
Teori X dari McGregor bahwa orang-orang ini pada hakekatnya adalah:

a.       Tidak menyukai bekerja.
b.      Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah.
c.       Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah-masalah organisasi.
d.      Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
e.       Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi..

Kebalikan dari pandangan yang negatif terhadap manusia, McGregor menempatkan empat asumsi lain yang disebut Teori Y:

a.       Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan kepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan.
b.      Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi.
c.       Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
d.      Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan social, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
e.       Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat.

Implikasi dari Teori X dan Teori Y McGregor terhadap organisasi adalah bahwa asumsi-asumsi Teori Y lebih dapat diterima dan dapat menuntun manajer dalam mendesain organisasi dan memotivasi para pegawai. Tahun 1960-an antusiasme pekerja cukup tinggi untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan organisasi, penciptaan tanggung jawab dan tantangan pekerjaan, termasuk pembangunan hubungan kelompok-kelompok kerja yang lebih baik. Antusiasme ini, sebagian besar, diakibatkan oleh Teori Y dari McGregor.

2.      Teori Sistem 4 dari Rensis Likert

Teori Empat Sistem adalah salah satu teori komunikasi yang mengkaji hubungan antar manusia melalui hasil dari produksinya yang dilihat dari kacamata manajemen. Empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert tersebut terdiri dari:
a.       Sistem pertama, otoritatif dan eksploitif : Manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh manajer.
b.      Sistem kedua, otoritatif dan benevolent: Manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Bawahan juga diberi berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.
c.       Sistem ketiga, konsultatif: Manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusankeputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.
d.      Sistem keempat, partisipatif : Sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting.

3.      Theory of Leadership Pattern Choice dari Tannenbaum & Scmidt

Pada tahun 1957, Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt menulis salah satu artikel yang paling revolusioner yang pernah muncul dalam The Harvard Business Review. Artikel ini, berjudul “Bagaimana Memilih sebuah Pola Kepemimpinan, adalah signifikan dalam bahwa itu menunjukkan gaya kepemimpinan adalah pilihan manajer. Di bagian atas diagram di bawah ini anda akan melihat akrab “Hubungan Oriented” dan “Tugas Berorientasi” kontinum, yang juga diberi label “Demokrasi” dan “otoriter.” Diagram menunjukkan dimensi lain: “Sumber Otoritas”. Pada akhir demokratis diagram, manajer memungkinkan kebebasan karyawan. Pada akhir otoriter diagram kita melihat bahwa manajer adalah satu-satunya sumber otoritas. Kita pergi dari otoritas buruh untuk otoritas manajer. Berkaitan dengan masalah gaya kepemimpinan dan dengan pertanyaan seperti manajer dapat demokratis terhadap bawahan, namun mempertahankan otoritas yang diperlukan dan kontrol. untuk tujuan analisis mereka telah menghasilkan sebuah kontinum perilaku kepemimpinan mulai dari autoritarian styeles di satu ekstrem ke gaya demokratis di sisi lain, yang mereka sebut bos s-berpusat dan berpusat pada bawahan tidak seperti orang lain model kepemimpinan berusaha untuk menyediakan kerangka kerja untuk analisis dan pilihan individu.
Para penulis mengusulkan tiga faktor utama yang menjadi pilihan tergantung pola kepemimpinan:
1.      Kekuatan di manajer (egattitudes, kepercayaan, nilai-nilai)
2.      kekuatan di bawahan (egtheir sikap, kepercayaan, nilai dan harapan dari pemimpin)
3.      kekuatan dalam situasi (egpreasure dan kendala yang dihasilkan oleh tugas-tugas, iklim organisasi dan lain-lain faktor extrancous).
Tujuh “pola kepemimpinan” yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Pola kepemimpinan ditandai dengan angka-angka di bagian bawah diagram ini mirip dengan gaya kepemimpinan, tetapi definisi dari masing-masing terkait dengan proses pengambilan keputusan. Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin.
Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
1.      Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior” . Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
2.      Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan”. Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
3.      Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan”. Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
4.      Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok”. Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
5.      Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan”. Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.
6.      Kepemimpinan Pola 6: “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar”. Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.
7.      Kepemimpinan Pola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup”. Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim

Sumber:

1.      Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
2.      sriherwindya.staff.uns.ac.id/files/2010/07/definisi.doc

Minggu, 30 Juni 2013

Keterkaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi, Stres dan Gender

Nama : Rindy Chairunisa
Kelas  : 2 PA 08
Npm   : 18511041



Keterkaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi, Stres dan Gender

Abnormalitas didefinisikan sebagai hal yang jarang terjadi atau penyimpangan dari kondisi rata – rata (seperti tinggi badan yang ekstrem). Menurut para ahli diantaranya Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.


·   Konsep motivasi
Pada dasarnya setiap individu memiliki konsep motivasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya . Konsep motivasi merupakan dorongan di dalam diri seseorang dalam menentukan atau melakukan tindakan . Jika seorang inidividu memiliki perilaku abnormal tentu hal tersebut berpengaruh pada konsep motivasi individu tersebut . Individu yang memiliki perilaku abnormalitas tidak dapat memenuhi tuntutan sosial yang ada di masyarakat dengan kata lain individu tersebut tidak dapat menyesuaikan dirinya . Dalam Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan Abraham Maslow , idealnya manusia "sehat"  memiliki kebutuhan fisiologis , rasa aman , kasih sayang , penghargaan , dan aktualisasi diri  yang harus dipenuhi . Bagi orang yang "tidak sehat " bisa saja konsep motivasinya jauh seperti yang diharapkan atau tidak seperti masyarakat pada umumnya.

·   Stres
Stres dapat menjadi salah satu penyebab seseorang memiliki perilaku abnormal. Salah satunya dengan adanya perspektif VULNERABILITY – STRESS. Perspektif ini menghubungkan antara faktor biologis, psikologis dan lingkungan. Vulnerability mengacu pada satu atau sejumlah karakteristik individu yang meningkatkan peluang bagi berkembangnya suatu gangguan. Dapat berupa biologis atau psikologis. Biologis misalnya adanya kerentanan secara genetis dari orang tua, adanya abnormalitas yang diturunkan. Psikologis misalnya, orang-orang yang mempunyai keyakinan lemah terhadap agama lebih rentan terhadap munculnya depresi. Stress mengacu pada suatu kondisi lingkungan individu yang menyebabkan kesulitan. Hal itu disebut stressor. Stressor dapat berupa biologis dan psikologis. Biologis misalnya kekurangan oksigen saat kelahiran atau gizi yang buruk selama kanak-kanak dapat menyebabkan disfungsi otak. Psikologis misalnya masalah kuliah, bencana banjir, tindak kekerasan orang lain, gagal tes kerja, kematian pasangan hidup, dsb. Interaksi antara Vulnerability dan Stress dapat menyebabkan munculnya gangguan. Misalnya individu yang secara biologis rentan terhadap skizofrenia, jika diberi stressor yang tepat, maka kemungkinan untuk menjadi skizofrenia makin besar.

·   Gender
Perilaku abnormalitas yang berkaitan dengan gender salah satunya adalah bunuh diri. Bagi beberapa orang, depresi sangatlah menyakitkan, sehingga mereka terus memikirkan ide untuk melarikan diri dari siksaan yang mewarnai keseharian mereka. Orang yang sudah berada pada titik ini merasa bahwa mereka kekurangan sumber daya untuk menanggulangi permasalahan mereka. Contoh kasusnya adalah di Amerika Serikat, sekitar 32.000 orang setiap tahunnya memilih mengakhiri hidup mereka (Minino dkk., 2007). Pada umumnya, pria memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bunuh diri dibanding wanita dengan tingkat rata-rata untuk pria dewasa lima kali lebih besar dibanding wanita. Wanita cenderung untuk melakukan usaha bunuh diri,  tetapi mereka tidak melakukan usaha tersebut dengan sepenuhnya seperti pada pria. Pada akhirnya pria lebih sering untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan menggunakan senjata dibandingkan wanita. Ketika ras diperhitungkan, pria kulit putih lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan pria bukan kulit putih.
Perilaku lainnya adalah identitas gender. Identitas gender adalah keadaan psikologis yang merefleksikan perasaan dalam diri seseorang berkaitan dengan keberadaan diri sebagai laki-laki atau perempuan. Identitas gender ini sangat berkaitan dengan budaya, berkenaan dengan serangkaian sikap, pola perilaku, dan atribut lain yang biasanya dihubungkan dengan maskulinitas atau feminimitas. Sedangkan peran gender dalam perilaku eksternal yang merefleksikan perasaan dalam diri seorang tentang identitasnya. Gangguan identitas gender, biasanya dikenal juga dengan istilah transeksualisme, memiliki karakteristik perasaan yang menetap dalam diri seseorang tentang ketidaknyamanan memiliki jenis kelamin (biologis) mereka, dan peran gender yang sesuai dengan jenis kelamin tersebut (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1994). Gangguan ini biasanya muncul sejak masa kanak-kanak. Pada anak-anak, munculnya gangguan ini antara lain pada saat usia 2-4 tahun (Green & Blanchard, dalam Davison & Neale, 2001), yang biasanya menyertai gangguan kecemasan untuk berpisah (separation anxiety) (Bradley & Zucker, dalam Davison & Neale, 2001). Data menunjukkan bahwa gangguan identitas gender enam kali lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan (Zucker, Bradley, dan Sanikhani, dalam Davison & Neale, 2001).

Sumber :
Halgin P Richard dan Susan Krauss Whitbourne. 2011. Psikologi Abnormal edisi 6, buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.

Halgin P Richard dan Susan Krauss Whitbourne. 2011. Psikologi Abnormal edisi 6, buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

http://www.mercubuana.ac.id/file/250313/Fakultas Psikologi/Filino Firmansyah - Psikologi Abnormal  & Psikopatolog
Flying Cute Pink Butterfly Pink Clover